Kejarlah Ilmu Setinggi Langit
Makna Kegiatan Live-In Desa 2008
Senyum sumringah menghiasi wajah anak-anak yang masih duduk di bangku kelas 4 SD itu. Ketiadaan tempat belajar yang layak tidak menyurutkan semangat langkah mereka untuk mengayuh sepeda mereka menuju rumah Pak Wakiman. Di saat renovasi berlangsung, mereka untuk sementara melaksanakan kegiatan belajar di ruang tamu rumah milik Pak Wakiman yang disulap menjadi ruangan kelas dengan sepuluh meja dan 15 kursi. Suasana kelas itu sangat nyaman dan sejuk sebab bangungan kayu itu diteduhi pohon rindang nan hijau, penghibur mata dan suasana hati yang setia menemani anak-anak itu.
Saat jarum pendek satu-satunya jam dinding di rumah itu menunjuk angka 7, aku baru saja membersihkan pikiranku dari untaian-untaian mimpi penghias tidur. Ketika lesu tubuhku masih terjaga, pelajar-pelajar itu telah datang dan tampak bersemangat menunggu dimulainya pelajaran yang baru akan dimulai tepat pukul setengah 8 pagi. Melihat hal itu, pikiranku langsung melayang mengingat keenganan aku memulai pelajaran rutinku di sekolah. 6.45 aku baru sampai di sekolah, ditemani kelesuan dan rasa ngantuk akibat mengerjakan tugas. Namun, mereka penuh semangat di tengah kondisi keterbatasan ruang belajar dan sarana transportasi. Mereka harus bersepeda untuk sampai di rumah itu, padahal tidak semua siswa di sekolah itu yang bertempat tinggal di desa pendem. Tekad pertama yang langsung terbit seketika melihat semua ini adalah saat kembali dari desa ini aku akan datang lebih awal dan tentu dihiasi senyum dan semangat seperti mereka, sebab dari mereka aku awal aku menyadari pentingnya belajar dalam hidup ini.
Pukul setengah delapan tepat, Pak Wakiman sudah siap dengan seragamnya menyambut murid-muridnya dengan senyum dan ucapan selamat pagi dalam bahasa jawanya yang kental. Guru yang sudah mengabdikan dirinya di sekolah itu selama lebih dari 10 tahun ini sudah tahu betul menghadapi anak-anak itu. Selama 6 jam penampilan kegiatan belajar mengajar itu tidak sedikitpun kulihat raut muka anak-anak itu berubah, bukti pengalaman sang guru yang sudah menggunung.
Mereka itu semua belajar mengejar ilmu. Banyak yang beranggapan bahwa belajar itu tidak diperlukan di dalam dunia ini, yang penting adalah bekerja dengan baik demi meraup uang yang banyak untuk hidup bahagia. Namun, kegiatan live in ini memberikan makna yang berbeda. Orang-orang yang tinggal di desa ini mementingkan apa itu yang dinamakan proses belajar.
Satu pernyataan yang sering terngiang di kepala datang dari Mbah Samino, “Kamu itu belajar yang rajin biar pintar dan bisa ngebahagiain orang tua.” Begitulah nasehat seorang tetua yang berumur 70 tahun saat kepulangan peserta live-in datang.
Begitu juga dengan kedua orang tua angkat yang selalu berpesan agar aku belajar dengan rajin sepulangnya aku dari kegiatan live in ini. Mereka memberikan contoh kedua anak-anaknya yang sekarang telah menjadi orang sukses sekarang ini dengan menjadi guru. Salah satu anaknya menjadi guru di Solo dan yang satunya lagi menjadi guru TK Marsudirini Solo. Ibu Wakiman pernah mengatakan bahwa ia rela membiayai sekolah anak-anaknya sampai di jenjang universitas sebab menurutnya pendidikan merupakan hal yang paling penting karena jika kita sudah mendapatkan ilmu yang tinggi kita dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat dalam hidup. Oleh sebab itu, tak terhitung intensitas sang ibu menasehatiku untuk selalu
Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya dengan demikiann akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkan untuk berfungsi secara adekuat dalam kehidupan masyarakat.
Pendidikan juga diartikan sebagai upaya manusia secara historis turun-temurun, yang merasa dirinya terpanggil untuk mencari kebenaran atau kesempurnaan hidup. Menurut Undang-Undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara. Undang-undang ini mencerminkan dianggap pentingnya pendidikan bahkan oleh negara.
Makna kegiatan live in in ini sangat mempengaruhi nilai-nilai kehidupanku. Di saat aku yang memiliki fasilitas pendidikan yang memadai, aku malah malas-malasan bersekolah. Sementara di luar sana tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama seperti aku. Fakta lainnya, banyak siswa-siswa yang tidak mendapat pendidikan yang sebagus aku justru sangat bersemangat mengenyam pendidikan. Semangat merekalah yang harus diadopsi oleh siswa-siswa SMA Kanisius.
Semakin tinggi ilmu yang kita dapat semakin banyak pula hal yang kita ketahui tentang mengembangkan hidup untuk menjadi lebih baik. Sehingga, orang tersebut bisa mngembangkan dirinya menjadi lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar